Tgk Muhammad Shafwan, S.Pd.I, M.Pd
Tgk Muhammad Shafwan, S.Pd.I, M.Pd
Online
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 👋
Ada yang bisa kami bantu saudaraku?

Ketika Bukber Menjadi Ladang Maksiat di Bulan Puasa

Ketika Bukber Menjadi Ladang Maksiat di Bulan Puasa

  • Diposting oleh : Mahyudar MD
  • pada tanggal : Maret 14, 2026


Bulan Ramadan sejatinya hadir sebagai jeda bagi jiwa untuk menepi dari keriuhan dunia dan kembali mendekat kepada Sang Pencipta. Di tengah kesucian bulan ini, muncul sebuah tradisi yang sudah mendarah daging di tengah masyarakat kita, yaitu buka puasa bersama atau yang lebih akrab disebut bukber. Niatnya sangat mulia, yakni menyambung tali silaturahmi yang barangkali sempat merenggang karena kesibukan masing-masing. Namun, jika kita mau menilik lebih dalam dengan jujur, sering kali acara makan-makan ini justru berubah menjadi bumerang yang menggerus esensi puasa itu sendiri. Tanpa kendali diri yang kuat, meja perjamuan yang seharusnya penuh berkah bisa seketika berubah menjadi ladang maksiat yang terselubung di balik tawa dan canda.

Titik rawan pertama yang sering kita temui adalah pengabaian terhadap tiang agama. Euforia bertemu kawan lama atau rekan kerja sering kali menciptakan keasyikan yang membuat waktu seolah berjalan sangat cepat. Akibatnya, azan Maghrib yang seharusnya menjadi penanda syukur untuk segera menghadap Tuhan melalui salat, justru hanya dianggap sebagai alarm untuk mulai menyantap hidangan. Tak jarang, waktu Maghrib yang singkat terlewati begitu saja hanya karena kita terlalu asyik mengobrol atau terjebak dalam antrean makanan yang panjang. Padahal, Allah SWT telah memberikan peringatan keras dalam Surah Al-Ma'un ayat empat dan lima mengenai orang-orang yang celaka karena melalaikan salatnya. Sungguh ironis ketika kita menahan lapar seharian penuh, namun justru mengabaikan perintah wajib yang paling utama saat berbuka.

Selain perkara salat, lisan menjadi musuh terbesar di meja makan. Pertemuan yang didominasi oleh keinginan untuk terlihat unggul sering kali menggiring percakapan ke arah ghibah atau membicarakan aib orang lain yang tidak hadir di sana. Sering pula bukber berubah menjadi ajang pamer pencapaian atau harta demi mendapatkan pengakuan sosial. Fenomena ini seolah menjustifikasi apa yang digambarkan dalam Al-Hujurat ayat dua belas, di mana membicarakan aib saudara sendiri disamakan dengan memakan daging bangkai saudara tersebut. Tanpa kita sadari, pahala puasa yang telah kita bangun sejak terbit fajar bisa luntur seketika hanya karena beberapa kalimat tajam yang keluar saat berbuka. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW yang mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus karena gagal menjaga perilaku dan lisannya.

Keberkahan bukber juga sering kali tergerus oleh sikap berlebihan atau israf. Sifat "lapar mata" saat memesan menu sering kali berujung pada tumpukan sisa makanan yang terbuang sia-sia. Perilaku mubazir ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap makna puasa yang seharusnya melatih empati kita terhadap mereka yang kekurangan. Dalam Surah Al-Isra ayat dua puluh tujuh, Allah menegaskan bahwa para pemboros adalah saudara-saudara setan. Oleh karena itu, jika bukber tidak lagi diniatkan untuk mempererat ukhuwah demi mengharap rida Allah, melainkan hanya sekadar ajang hura-hura dan pemuasan hawa nafsu, maka momen tersebut tak lebih dari sekadar "pesta" yang merugikan akhirat kita. Sangat penting bagi kita untuk kembali meluruskan niat, memastikan bahwa silaturahmi tetap terjaga tanpa harus mengorbankan nilai-nilai ketakwaan yang sedang kita perjuangkan selama satu bulan penuh ini.

Berbagi

1 komentar

  1. Jaisar Rabbani Bin Jamaluddin
    Jaisar Rabbani Bin Jamaluddin 14 Maret 2026 pukul 04.11
    Bereh 👍